Tuesday, February 11, 2014

KATA-KATA CORBY DIHARGAI 32 MILYAR !



Anda terkesima dengan judul tulisan saya ini? Tentu. Hari ini saya tidak saja terkesima tetapi juga kaget, marah sekaligus sedih ketika membaca sebuah berita; http://news.liputan6.com/read/823211/keluar-penjara-corby-dibayar-rp-32-miliar-untuk-wawancara  tentang ‘keberanian’ salah satu stasiun televisi Australia membayar sekitar 32 milyar rupiah hanya untuk bisa mewawancarai Corby, sang narapidana yang baru saja diberikan status bebas bersyarat oleh pemerintah RI itu. Kemarahan dan kesedihan saya melebihi kejengkelan dan kemasygulan saya terhadap pembebasannya dari jeruji besi beberapa hari yang lalu. Bagimana tidak. Dunia begitu angkuh telah menyuguhkan kondisi yang begitu paradok di depan mata kita. Kata-kata seorang narapidana dihargai jauh lebih mahal daripada kata-kata seorang  insinyur, dokter, guru, dosen, motivator ulung  bahkan professor sekalipun.  Bayangkan! Dengan hanya bermodal julukan ratu mariyuana karena ulah bejatnya menyelundupkan 4,2 kilogram barang haram tersebut ke Bali, kata-kata yang diucapkannya berani dibayar jauh lebih mahal daripada gaji ribuan guru selama setahun di tempat saya bertugas saat ini. Padahal para guru itu telah berjuang dengan mengorbankan tidak sedikit uang dan memberdayakan segala potensi dan fikiran selama bertahun-tahun melalui pendidikan dan latihan hingga bisa diakui eksistensinya dan akhirnya mendapatkan gaji yang jumlahnya jauh lebih kecil daripada harga kata-kata orang yang telah dibui karena kejahatannya itu. Sungguh sebuah kondisi yang amat sangat paradok dan maaf saya harus mengatakan the ‘world’ isn’t fair!

Kalau kita mau jujur, kondisi paradok ini sungguh banyak terpajang di depan kita. Seorang artis-artisan dengan modal seksi, dada dan paha terbuka serta berani bicara jorok  dan blak-blakan membuka aib dirinya sendiri dan orang lain di depan publik telah mampu memberikan pesona yang luar biasa bagi pemilik korporasi pertelevisian kita sehingga membayarnya dengan harga yang begitu mahal untuk itu. Seorang tukang lelucon yang bermodalkan keberanian mengeksploitasi berbagai kata-kata, rona muka, kaki, tangan, mulut bibir, rambut, bagian-bagian tubuh lainnya serta barang-barang dan orang lain di sekitarnya pun tak kalah seksi bayaran yang diterimanya dari stasiun televise yang menayangkannya. Padahal kalau kita tanya, apa yang telah dilakukan terkait pendidikan yang dimilikinya, mulai dari Corby, si penjahat narkoba itu hingga artis-artisan dan tukang lelucon yang ditayangkan di televisi kita, jawabannya realtif sama; tidak lebih baik daripada guru-guru kita itu. Inilah bukti betapa banyak situasi paradoksal yang disuguhkan di hadapan kita saat ini.

Saya sangat maklum bahwa besarnya bayaran wawancara ekslusif yang diterima Corby atau honor yang diberikan kepada artis-artisan dan tukang lelucon itu tidak ada hubungannya dengan pendidikan yang disandangnya sehingga saya mustinya tidak perlu ‘galau’ dengan situasi ini. Ya, saya tidak galau dengan hal ini tetapi saya risau dengan pesan yang mungkin saja terbaca oleh berjuta-juta orang tua, anak-anak dan masyarakat kita. Akan sangat fatal manakala orang tua, anak-anak dan masyarakat kita yang saban hari disuguhkan dengan kondisi yang paradok ini membangun sebuah konsepsi bahwa “untuk mendapatkan uang banyak sebagai modal hidup sejahtera tidak perlu pendidikan!” Alasan mereka mungkin saja sederhana. “Lihat saja di sekeliling kita orang-orang yang berpendidikan tinggi ternyata tidak jauh lebih baik kehidupannya daripada mereka yang pendidikanya pas-pasan seperti artis-artisan dan tukang lelucon itu. Wong orang jahat saja seperti Corby bisa mendapat bayaran bermilyar-milyaran kok”.



Khusus dalam kasus pembayaran hak siar wawancara eksklusif Corby yang fantastis itu, saya memaknainya dari perspektif yang mungkin saja berada di luar mainstream penilaian publik pada umumnya. Saya bahkan mencurigai ada motif tersembunyi di balik itu. Di luar perspektif bisnis, TV 7 Australia atau pihak-pihak yang berada di belakangnya bisa saja sedang mengirimkan sebuah pesan kepada publik di Indonesia bahwa si ratu mariyuana itu adalah asset yang begitu bernilai harganya bagi mereka sehingga kata-katanya dibayar begitu mahal walaupun di Indonesia dia dinilai sebagai penjahat kelas kakap. Pemaknaan ini  muncul di benak saya ketika saya mencoba menarik benang merah antara besarnya tarif wawancara yang diberikan oleh stasiun televisi tersebut dengan eksistensinya. Siapa sih wanita berkebangsaan Australia yang memiliki nama lengkap Schapelle Leigh Corby itu? Apakah dia begitu populer dan memiliki banyak fans seperti yang dimiliki oleh artis-artis kelas dunia? Atau… apakah dia seorang tokoh yang begitu populer atau spionase yang mengerti dan memegang rashasia Negara sehingga harus dibayar begitu mahal supaya dia mau membocorkannya? Saya rasa tidak! Schapelle Leigh Corby hanyalah seorang janda mantan narapidana yang pernah dijebloskan ke dalam penjara Grobokan-Bali gara-gara mencoba menyelundupkan mariyuana seberat 4.2 kilogram ke Indonesia. Itu saja! Kalau demikian adanya, cukup rasionalkah  kalau dia perlu dibayar puluhan milyar untuk sebuah wawancara tersebut. Kalaupun dilihat dalam konteks bisnis, ‘nilai jual kata-kata’ penjahat narkotika ini belumlah sepadan dengan eksistensinya bila dibandingkan dengan tarif wawancara public figure dan selebriti-selebriti kelas dunia. Karena itulah kemudian saya memaknainya dalam perspektif yang berbeda.

Saturday, February 08, 2014

I MISSED THE PLANE !



Anda pernah ketinggalan bis, kereta atau pesawat udara? Coba diingat-ingat, kira-kira apa yang menyebabkan anda ketinggalan bis, kereta atau pesawat udara tersebut? Dua hari yang lalu menjadi momen 'istimewa' buat saya. Lho.. apa hubungannya? Ya... sejak pertama kali saya bisa naik pesawat udara, baru kali itu saya ketinggalan burung besi yang bisa terbang tersebut. Selain itu, saya tertinggal bukan karena terjebak kemacetan, kendaraan mogok di jalan atau hal-hal lain yang membuat saya tiba di bandara terlambat . Saya tertinggal karena salah masuk ruang tunggu !

Uh... sesak rasanya dada ini. Sudah puluhan bandara pernah saya lewati dari bandara perintis di ujung selatan benua Australia hingga bandara sekelas Changi, Narita, Hongkong, Los Angles, Hartsfield-Jakson, Memphis, Heathrow hingga Frankfurt di Jerman dan berbagai bandara udara di benua Afrika, saya belum pernah sekalipun ketinggalan pesawat. Kalau pun ada yang hampir meninggalkan saya, itu terjadi bukan karna hal remeh temeh dan kelalian saya, tetapi karna pihak lain. Saya hampir saja tertinggal pesawat udara menuju Hartford, Conneticut karena 'secondary inspection' di bandara udara LA setelah kurang lebih 16 jam terbang dari Narita, Tokyo. Yang bikin saya lebih meradang lagi dengan pengalaman istimewa saya dua hari yang lalu itu adalah saya salah masuk ruang tunggu di bandara dimana begitu banyak berseliweran petunjuk dengan bahasa Indonesia, bukan nihonggo seperti di Jepang atau bahasa Rusia di Bandar Udara Domodedovo Moskow. Mau tau dimana? di Ngurah Rai-Bali !

Dua hari yang lalu saya ke Denpasar untuk mengurus proses pelimpahan kepegawaian saya dari jabatan struktural ke jabatan fungsional dosen. Saya berangkat dari BIL-Bandara Internasional Lombok dengan tiket Lion Air (PP) hari itu juga. Saya tiba di Ngurah Rai sekitar jam 10.00 wita setelah terbang selama kurang lebih 25 menit dari BIL. Sesegera setelah mendarat di Ngurah Rai, saya langsung ke loket tiket taxi airport, membeli tiket seharga 150 ribu rp lalu menuju Kantor Kopertis Wilayah VIII Bali, NTB,NTT. Singkat cerita, setelah selesai urusan di Kopertis, saya segera kembali ke Bandara Ngurah Rai karena penerbangan kembali ke Lombok hari itu juga. Saya tiba di bandara sekitar jam 2.10 pm sedangkan penerbangan saya ke BIL dijadwalkan jam 4.55 pm. Karena waktu yang masih cukup lama tersisa untuk keberangkatan ke BIL, saya memilih bersantai sambil melihat-lihat berbagai renovasi yang dilakukan di bandara tersebut. Sambil menyusuri 'lorong' menuju ruang tunggu, sesekali saya cek gate no. dan boarding time di boarding pass saya. Tampak jelas disana, gate no. saya 18 dan boarding time-nya 4.30 pm. Setelah hampir 5 menit saya menyusuri lorong itu (saya menyebutnya lorong karena itu jalan sementara dibatasi dengan sejenis dinding calsiboard di kiri kanan), saya melihat no. gate saya, 18 dengan tanda panah ke atas persis di depan saya. Saya sama sekali tidak melihat no. gate 16-17 dengan tanda panah ke arah samping kanan di bawah nomor 18 tersebut. Saya fikir saat itu, ruang di samping kanan saya itulah gate 18. Maka dengan penuh keyakinan saya memasuki ruang tunggu itu, mencari tempat nyaman untuk sekedar menyandarkan tubuh yang sudah kelelahan sambil menunggu penerbangan saya ke BIL.

Saya sempat 'get a nap' beberapa menit sambil duduk dimana sesekali mata saya melongok ke monitor jadwal keberangkatan pesawat ke berbagai tujuan di depan saya. Saya melihat borading time nomor pesawat yang saya tumpangi di layar itu lebih telat daripada waktu yang tertera di boarding pass saya. Uhm... bakal terlambat lagi, gumam saya dalam hati. Benar saja. Ketika jam tangan saya menunjukkan waktu jam keberangkatan saya seperti yang tertera dalam borading pass saya, tak jua ada panggilan dari staf Lion Air di depan gate yang saya tunggu seperti bisa mereka lakukan utk memberi tahu penumpang agar segera boarding. Saya sudah mulai curiga pesawat yang saya tumpangi bakal delay karena di layar monitor tampak beberapa maskapai mengalami hal serupa walaupun maskapai yang akan saya tumpangi ke BIL tidak memberikan informasi 'delay' dilayar monitor tersebut. Yang tampak di monitor justru 'boarding'. Walaupun terasa aneh, saya tidak mencoba bertanya kepada staf Lion Air di depan gate tersebut karena seringkali juga saya alami kalaupun sudah tertulis 'boarding' dilayar monitor tersebut tetapi penumpang juga tidak dipanggil-pangggil. Salah seorang penumpang yang juga hendak berangkat ke BIL mendekati seorang staf Lion Air di depan gate itu dan samar-samar saya dengar ia menanyakan keberangkatan pesawat Lion Air yang akan ditumpanginya. Staf tersebut menjelaskan kalau pesawat Lion Air yang akan ia tumpangi delay selama 30 menit. "Oh, my God, pesawat saya delay". Sambil bergumam dalam hati, saya tatap layar monitor di depan saya lagi. Disana masih tertulis 'boarding' untuk nomor pesawat yang akan saya tumpangi. Saat itu sudah jam 5.05., padahal jadwal keberangkatan ke BIL yang tertera di borading pass saya jam 4.55. Saya mulai gusar dan bertanya dalam hati, "kok kata boarding di layar monitor itu tidak berganti menjadi delay ya?" Ketika jam tangan saya menunjukkan pukul 5.10 atau tepatnya setelah 15 menit dari jadwal keberangkatan pesawat yang hendak saya tumpangi, saya memberanikan diri bertanya kepada staf lion air tersebut sambil menunjukkan boarding pass saya. Dengan raut wajah yang agak kaget dan tergesa-gesa, staf itu berkata; 'oh... bapak bukan di sini. ini gate 17 pak. Bapak di gate 18.  Cepat... cepat.. ke sebelah pak'!

"MasyaAllah, saya salah masuk ruang tunggu", ujar saya dalam hati sambil berlari ke ruang tunggu sebelah. Tanpa menghiraukan para penumpang yang saya lewati, saya langsung ke depan gate ruang tunggu 18. "Maaf mba', pesawat ini sudah berangkat nggak", tanya saya kepada staf lion air disana dengan nafas terengah-engah. "Waduh! Pesawatnya baru saja berangkat pak. Tadi kami telpon ke hp bapak tiga kali tetapi tidak diangkat", katanya dengan wajah yang agak kecewa. "Waduh mba' hp saya di saku jaket saya dan kebetulan saya tidak hidupkan nada deringnya", ujar saya dengan wajah pucat pasi :-) "Trus, gimana mba', bisakah dibantu saya? Saya harus berangkat sore ini ke Mataram", rengek saya dengan penuh memelas berharap saya dapat dibantu. "Oh.. kami nggak bisa pak, coba bapak tanya ke loket penjualan tiket lion air di depan sana, siapa tahu bisa direschedule?", ujarnya.

Dengan perasaan galau kembali saya berlari menyusuri lorong-lorong yang saya lewati tadi untuk kembali ke loket penjualan tiket lion air di depan bandara. Keringat sudah mulai mengucur dan napas saya sudah mulai tersengal-sengal setelah hampir setengah kilometer saya berlari sekencang-kencangnya dengan harapan saya masih mampu mengejar penerbangan terakhir lion air dari Ngurah Rai ke BIL sore itu. Ketika tiba di loket itu saya langsung saja menjelaskan apa yang saya alami dan memastikan apakah penerbangan saya bisa direschedule dengan penerbangan lion air yang lain sore itu ke BIL. Apes! Ternyata pesawat lion air yang meninggalkan saya tadi adalah penerbangan terakhir ke BIL. “Mba’ tolong bantu saya, mba”, dengan nada setengah memelas pinta saya kepada petugas itu. “Kami bisa bantu bapak tetapi besok pagi. Itupun  kami tidak bisa jamin dapat tempat duduk karena tadi tinggal 2 kursi yang kosong”, ujarnya.

Dalam kondisi yang panik, cemas dan galau, tiba-tiba seseorang yang kemudian saya ketahui sebagai calo, menawarkan saya tiket Garuda. “Maaf pak, kalau Bapak mau, saya ada dua seat tiket garuda ke BIL yang tersisa untuk jam 6.30 nanti”, ujarnya. Saya berfikir sejenak. “Kalau saya ambil tiket Garuda, ……. Bersambung …..

GURU STM KELILING DUNIA !



Aku baru saja membaca sebuah buku. Judulnya Anak Dusun Keliling Dunia. Buku ini ditulis oleh I Made Andi Arsana, seorang anak muda yang berprofesi sebagai Dosen di UGM sekaligus  ‘a Ph.D student’ di University of Wollongong , Australia. Dari judulnya, tentu kita bisa dengan mudah menebak apa yang  ia ceritakan dalam buku tersebut. Ya.. benar, dia menceritakan  pengalamannya mengunjungi berbagai Negara di berbagai belahan dunia yang kita diami saat ini. Dengan gaya yang jauh dari kesan ‘mengajari’ sebagaimana yang mungkin biasa ia lakukan saat mengajar, dia mampu mengemas cerita perjalanannya yang saya yakini cukup menarik dan inspiratif  bagi para pembaca.
Bagi saya, buku ini menarik sekaligus inspiratif bukan karena diksi atau gaya bercerita sang penulisnya, tetapi lebih daripada itu, substansi dan pesan yang hendak disampaikan saya kira persis seperti apa yang pernah saya alami dan ingin saya sampaikan kepada siapa saja yang punya hobi ‘berpetualang’ tapi tidak punya cukup uang. Kami sama-sama ingin mengatakan bahwa “kamu bisa berpetualang mengelilingi jagat ini tanpa harus memiliki cukup uang !” Lho.. kok bisa?  Mana mungkin perjalanan  mengelilingi dunia tidak membutuhkan uang?  Ya, perjalanan mengelingi jagat raya ini pasti memerlukan uang tapi tidak selalu uang tersebut berasal dari kocek anda, bukan? Itulah yang penulis buku ini dan saya alami dalam 10 tahun terakhir ini.

Jika ada perbedaannya, hal itu terlihat pada latar belakang dan kapasitas kami masing-masing. Kalau Bli Made Arsana berasal dari sebuah kampung [baca:dusun di pulau Bali] sebagaimana disentil dalam judul bukunya, saya berasal dari sebuah tempat yang lebih ‘kampungan’ lagi J . Bli Made Arsana masih bisa memakai sepatu ke sekolah dan naik kendaraan bermotor saat SD dulu. Saya tanpa alas kaki sama sekali dan harus menyusuri jalan setapak dari kebun yang dijaga sekaligus tempat tinggal kami di sebuah kampung di pulau Sumbawa. Jika Bli Made Arsana  berprofesi sebagai ‘guru’ di salah satu lembaga pendidikan tinggi [baca: UGM] terbaik di negeri ini, saya hanyalah seorang guru di sebuah STM di pulau Kalimantan saat ‘melancong’ ke berbagai belahan dunia tersebut. Jika Bli Made Arsana telah menulis pengalamannya mengunjungi kelima benua yang ada di bumi yang kita pijak saat ini, saya baru saja memulai baris pertama dalam catatan perjalanan panjang saya tersebut. Pun demikian, dengan perbedaan latar belakang dan kapasitas yang cukup mencolok, toh juga Tuhan telah memberikan kesempatan yang hampir sama dengan Bli Made untuk soal ‘berkeliling’ dunia ini J

So.. apa yang perlu saya lakukan supaya perbedaan itu tidak terlalu menganga? Hanya satu yang bisa saya lakukan, menulis dan menulis pengalaman saya berkunjung ke lima benua tersebut lalu saya jadikan sebuah buku. Ups! Trus judulnya apa? Masa’ saya menjiplak judul bukunya Bli Made Arsana? Bagaimana kalau “Berselancar Di Lima Benua” atau “Tanpa Uang Berkeliling Dunia” atau “Guru STM Keliling Dunia” atau ada yang lain ? J

Thursday, October 03, 2013

MY M.Ed THESIS !

Banyak sekali catatan menarik yang saya lalui selama menyelesaikan Master's Thesis saya, mulai yang bersifat akademis hingga yang non akademis. Dari sekian banyak catatan tersebut, pergumulan antara idealisme dan keinginan untuk segera menyelesaikan studi yang saya ikuti menjadi satu hal yang layak untuk 'dibagi' melalui blog ini.

Tentu kita semua maklum bahwa penulisan thesis menjadi pintu paling akhir yang harus 'didobrak' oleh seorang scholar, tak terkecuali dengan saya, bila ia ingin meraih gelar dalam studi yang dikutinya. Sebagus apapun nilai seluruh mata kuliah yang telah diikutinya, hal itu tidak akan memiliki makna apa-apa terhadap gelar yang hendak diraih apabila ia belum menyelesaikan thesis-nya. Oleh karenanya, dengan segala daya upaya, saya telah berjuang habis-habisan untuk menyelesaikan thesis saya yang terkait dengan perencanaan pembelajaran tersebut.  Bersambung ...

Tuesday, April 17, 2012

RUMAH DIJUAL/DISEWAKAN !


Ada yang minat ? Rumah Tinggal/Kantor Lantai 2 DIJUAL/DISEWAKAN ! Sertifikat Hak Milik atas nama Syamsul Aematis Zarnuji. Lokasi : Perum PT. Her Utama Mandiri I Blok J/19 Balikpapan, LT. 160 M2, LB. 175M. LT 1 : 1 Ruang Tamu, 3 Kamar Tidur, 2 Ruang Keluarga, 2 Toilet/K. Mandi, 1 Ruang Dapur Plus Kitchen Set. LT 2 : 1 Ruang FO, 1 Ruang Kantor dan 1 Ruang Belajar/Kerja. 10 Menit ke Bandara International Sepinggan, 15 Menit ke Rumah Sakit Umum, 5-10 Menit ke Pusat Perkantoran Pemkot Balikpapan, SMAN 5, SMPN 18, SMON 14, SMKN 1, 3 dan 4 Balikpapan. 15 Menit ke Balikpapan Plaza, Balcony City dan 10 Menit Balikpapan E-Walk. Tanpa Perantara ! Harga Nego, Hub. 0542-877 635, HP. 0811531471 atau E-mail: szarnuji@yahoo.com.



Salam,
Syamsul A. Zarnuji

ALHAMDULILLAH, AKHIRNYA MASA BAKTI SAYA PURNA !


Tahun 1997 pertama kali saya menginjakkan kaki di bumi etam tepatnya di kota Balikpapan. Saya tidak pernah berfikir saat itu jika kelak saya akan meninggalkan kota ini untuk kembali mengabdikan diri saya bagi kampung halaman tercinta. Namun setelah lima belas tahun berlalu, masa bakti saya untuk kota yang telah banyak memberikan saya dan keluarga pelajaran yang begitu berharga harus purna. Tepatnya sejak tanggal 1 April 2012, saya secara resmi tidak lagi menjadi bagian dari pemerintah kota Balikpapan. Selamat tinggal kotaku tercinta. Ijinkan saya dan keluarga pamit untuk membagi banyak pelajaran yang pernah kau berikan bagi tanah kelahiran kami nun jauh diseberang sana dan terimaksih untuk semuanya.

Salam,
Balikpapan, 17 April 2012
Syamsul & Keluarga

Saturday, November 19, 2011

POLITEKNIK YANG UNIK (3) : Ada 19 APPLAUSE di Wisuda Politeknik Balikpapan


Aku fikir keunikan yang membuat lembaga pendidikan yang satu ini begitu istimewa di mataku sudah tidak ada lagi. Eh.. ternyata aku salah. Buktinya aku dibuat tercengang dengan yang satu ini. Ada sembilan belas tepuk tangan yang aku dengar dan saksikan selama mengikuti prosesi wisudanya yang ke VII yang baru saja usai digelar beberapa jam yang lalu ! Ya…. jumlah itu persis sama dengan tanggal penyelenggraan ajang tahunan itu ! Aku tidak tau apakah kesamaan ini hanya faktor kebetulan saja atau aku yang salah menghitung. Tapi yang jelas aku tetap terpana dengan jumlah tepuk tangan itu.

Aku sudah sering mengikuti ajang seremonial seperti ini. Tapi sangat jarang bahkan belum pernah rasanya aku mendengar tepuk tangan sebanyak itu. Untuk acara yang digawangi oleh pentolan bidang kepegawaian Politeknik Negeri Balikpapan ini, aku harus angkat topi. Bayangkan, acara baru saja berjalan sekitar lima menit, ruangan wisuda itu sudah bergemuruh. Tepuk tangan mulai terdengar setelah lagu Indonesia Raya dan Hymne Balikpapan dinyanyikan. Sebagai mantan Bintang Radio & Televisi (BRTV) RRI Mataram Tahun 1989 dalam lagu keroncong yang cukup mengerti tentang nada, aku harus memberikan nilai 9 kalau 10 terlalu sempurna buat adik-adik mahasiswa yang menyayikan kedua lagu tersebut. Sungguh ! Kemerduan, gegap gempita dan kekompakan suara mereka benar-benar mampu melucuti semangat heroisme dan bangga menjadi anak Indonesia dan warga Balikpapan dari persembunyiannya dalam bilik hatiku. Aku tidak tahan untuk sekedar mengetahui orang dibalik kehebatan mereka. “Siapa ya yang melatih anak-anak itu ?”, tanyaku kepada seorang tamu undangan yang kebetulan juga seorang dosen Politeknik Negeri Balikpapan yang duduk di sampingku. “Oh… itu didatangkan dari luar pak”, jawabnya. Aku hanya menganggukkan kepala tanpa memberi komentar apapun soal itu.

Tepuk tangan itu ternyata masih berlanjut. Beberapa datang dari serpihan saat-saat yang tidak begitu aku ingat. Yang lainnya hadir ketika direktur yang baru lembaga yang pertamakali diinisiati pendiriannya oleh komunitas SMK di kota Balikpapan itu menyampaikan sambutannya. Aku melihat para undangan memberikan tepuk tangan yang meriah ketika pak direktur menyampaikan ucapan terimakasihnya yang tulus kepada sahabatku yang baru saja digantinya. “Atas pengabdiannya, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya. Saya mohon kepada Bapak Totok Sulistyo, ST, MT untuk berdiri”. Seperti itulah kurang lebih ungkapan tulus pak direktur kepada orang yang digantikannya atas perannya sebagai pengendali pucuk pimpinan lembaga itu sebelumnya. Rasanya aku ingin sekali memberikannya ‘standing ovation’ ketika mantan direkturku itu diminta berdiri diantara para hadirin di barisan depan. Ada keihlasan saling memberi dan menerima disana. Solute ! Itulah kata yang paling pantas aku berikan atas ketulusan mereka berdua.

Diantara sekian momen yang paling banyak menyita perhatian, tanpa keraguan aku harus mengakui kepiawaian walikotaku meracik kata-katanya untuk itu. Coba bayangkan, dalam setiap 1-2 menit sambutan yang disampaikannya, orang yang dulu berprofesia sebagai wartawan ini mampu menghadirkan tepuk tangan dan suasana riuh rendah dari para undangan yang mendengar ‘orasinya’. Apalagi ketika dia memafarkan rencana pembangunan mega proyek pendidikan Institut Teknologi Kalimantan (ITK) di kota Balikpapan, aku menyaksikan gemuruh tepuk tangan yang luar biasa. Tapi kemudian dia mampu membuat suasana begitu hening dan perasaan haru serta merta menyelimuti ruangan itu manakala ia berbagi kesedihannya tentang anak-anak yang terpinggirkan dari akses pendidikan di kota yang dipimpinnya. Tanpa menggunakan teks seperti kebanyakan pejabat yang aku lihat di negeri ini, dia begitu lihai berdiksi dan memilih kata-kata yang begitu dekat dengan pendengarnya. Rasanya aku belum pernah mendengar seorang pejabat di negeri ini yang selalu konsisten menggunakan kata ‘sampaian’ kepada pejabat lain dan para hadirin yang mendengarnya dalam acara-acara seresmi ini. Inilah salah satu diksi yang menjadi cirri khasnya yang membuat dia tidak berjarak dengan orang-orang disekitarnya. Hmmm… aku mahfum. Dia memang mantan wartawan. Tetapi dimataku, ia tetaplah seorang pemilih dan perangkai kata yang ulung seperti halnya sang maestro otodidak Dahlan Iskan sampai saat ini.

Aku juga terhenyak ketika beberapa menit kemudian ruangan yang berisi hampir ribuan orang tersebut bergemuruh manakala seorang alumni terbaik yang baru saja diwisuda melakukan presentasi tugas akhirnya dalam bahasa Inggris. Aku terpana bukan karena bahasa Inggrisnya yang lancar dan akurat karena memang bukan demikian adanya. Aku mencatat setidaknya masih ada, kalau tidak mau desebut banyak, diksi-diksi yang terasa Indonesia [baca: Indonesian sounds]serta tata bahasanya yang masih ringkih tentu untuk ukuran pengguna bahasa Inggris seperti aku. Tetapi aku tetap saja dibuat kagum olehnya. Konfidensi dan naturalisasi berbicara di depan publik alumni yang satu ini patut aku acungi kedua jempolku. Dia tidak grogi dan samasekali tidak menunjukkan inferioritas di depan para pejabat dan hampir ribuan undangan yang menyaksikannya. Oh… dear, seandainya aku punya perusahaan, aku akan melamarnya. Bukan dia yang melamarku. Begitulah, tepuk tangan ini terus saja terdengar hingga hajatan itu berakhir.

Aku tau pasti ada yang bertanya; apa pentingnya sih menghitung tepuk tangan-tepuk tangan itu ? Apa sih makna yang ada dibalik tepuk tangan-tepuk tangan itu dan apa hubungannya dengan acara seremonial seperti ini ? Kalau aku ada waktu aku akan menulisnya di lain waktu. Selamat datang Bapak Direktur Politeknik Negeri Balikpapan, selamat kepada para wisudawan/wisudawati dan selamat juga kepada para penyelenggara ajang tahunan ini ! Bersambung ……. 

Balikpapan, 19 November 2011
Salam Jabat Erat !

SYAMSUL AEMATIS ZARNUJI
szarnuji@yahoo.com
www.zarnuji.blogspot.com
www.myvirtualviews.wordpress.com